Memanaje Kreatifitas Organisatoris

By | Desember 4, 2014

Memanaje Kreatifitas Organisatoris

Dosen: Muh Rosyid, S.Pd.,M.M.

(Manajemen Konflik Prof. DR. WINARDI, SE)

Kreatifitas telah menjadi bagian penting dari kehidupan organisasi. Apabila konflik fungsional telah dimanaje dengan baik, maka hal tersebut memungkinkan organisasi yang bersangkutan untuk mencapai cara-cara lebih baru dan yang lebih baik, lebih kreatif untuk melaksanakan pekerjaannya.

Kreatifitas juga memungkinkan organisasi yang bersangutan untuk mengantisipasi perubahan. Hal tersebut menjadi makin penting, sewaktu teknologi-teknologi baru, produk-produk baru, dan metode-metode kerja baru menyebabkan hal-hal yang lama menjadi usang.

Dalam rangka upaya merangsang dan memanaje kreativitas, maka para manajer harus memahami proses kreatif, dan mereka harus mampu merangsang perilaku kreatif, dapat menciptakan iklim organisatoris, yang memupuk perkembangan kreativitas.

Ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk menciptakan ide-ide baru, tidak sama dengan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk menjadikan ide-ide tersebut menjadi realitas.

Di dalam organisasi-organisasi, proses kreatifitas harus mencakup baik elemen-elemen kreatif maupun elemen-elemen inovatif, memang orang harus menciptakan idee-ide baru, namun ide tersebut harus dapat diimplementasi dalam praktik agar organisasi yang bersangkutan dapat mencapai keuntungan.

Langkah-langkah dalam proses kreatif:

1. Menemukan problem atau merasakan adanya sesuatu problem (PROBLEM FINDING OR SENSING)

Sang individu memilih sebuah problem yang perlu ditangani.

2. Imersi atau Persiapan (IMMERSION OR REPARATION)

Individu mengkonsentrasi diri pada problem yang ada dan akhirnya terserap ke dalamnya.

3. Inkubasi atau Gestasi (INCUBATION OR GESTATION)

Setelah informasi yang ada dirakit, maka sang individu rilaks, dan selanjutnya pikiran bawah sadar mulai bekerja dan menggarap bahan-bahan yang ada. Pada langkah ini yang kurang dipahami sang individu tidak melakukan suatu tindakan atau sedang bermimpi di siang bolong.

4. Pemahaman atau Iluminasi (INSIGHT OR ILLUMINATION)

Adanya gejala, bahwa sewaktu individu yang bersangkutan sedang makan, atau sedang tidur, atau sedang berjalan, ide baru yang integratif sekonyong-konyong muncul dalam benak individu tersebut.

5. Verifikasi dan Aplikasi (FERIFICATION AND APPLICATION)

Individu mencoba menggunakan logika atau eksperimentasi untuk membuktikan ide yang dicapai dapat memecahkan problem.

Kreatifitas individual:

  1. Orang-orang kreaif cenderung bersifat fleksibel dibanding orang-orang yang tidak kreati, ketika menghadapi problem dia mampu untuk beralih dari pendekatan yang satu ke pendekatan yang lain;
  2. Orang-orang kreatif lebih menyukai kompleksitas, bersifat independen, yang secara kaku tidak mau berubah pandangan mereka apabila ide-ide mereka diserang;
  3. Orang-orang kreatif juga cenderung mempertanyakan ototitas lebih cepat, sering tidak mengikuti perintah-perintah yang menurutnya tidak ada artinya;
  4. Orang-orang kreatif senang bekerja keras dan lama dalam menangani sesuatu hal yang menarik perhatian mereka.

Metode untuk merangsang kreativitas:

  1. Brainstroming yaitu mengembangkan ide sebanyak mungkin dalam waktu relatif singkat pada kampanye-kampanye pengiklanan dan pengembangan produk baru serta pengembangan pemecahan-pemecahan atas problem-problem yang kompleks.
  1. Proses kelompok nominal (Nominal Group Process) yaitu meniadakan interaksi vokal yang dapat menghambat individu-individu dalam mengemukakan ide.
  1. Sinektika (Syinectics) yang juga dinamakan Gordon yang didesain untuk membantu menemukan produk-produk baru bagi kliennya. Dalam sinektika hanya pemimpin kelompok yang mengetahui sifat eksak problem yang sedang dihadapi.
  1. Pengambilan keputusan kreatif (Creative Dicision Making) yaitu dirancang dengan tujuan untuk dimanfaatkan dalam kelompok-kelompok untuk pengambilan keputusan kelompok kreatif yang merupakan cara tepat jika ketika ada metode pemecahan problem yang disetujui.

Kreatifitas Organisatoris dan Inovasi:

Guna memungkinkan organisasi-organisasi menggunakan kreativitas secara paling efektif, maka para manajer perlu memahami proses organisasi pada organisasi-organisasi dan mereka perlu mengambil langkah-langkah guna merangsang proses tersebut.

Adapun proses kreatif di dalam organisasi-organisasi mencakup tiga macam langkah sebagai berikut:

1. Pemunculan ide (Idea Generation) bergantung pada arus orang-orang dan informasi antara perusahaan dan lingkungannya. Jika para manajer organisasi tidak menyadari adanya permintaan potensial akan produk baru, atau terlihat adanya ketidak puasan dengan produk-produk yang sudah ada, maka mereka kiranya tidak akan mengupayakan adanya inovasi-inovasi.

2. Pemecahan problem atau pengembangan ide (Problem Solving or Idea Development) bergantung pada kultur organisatoris, dan proses-proses di dalam organisasi yang bersangkutan. Ciri-ciri organisatoris, nilai-nilai dan proses-proses dapat membantu atau menghambat pengembangan serta penggunaan ide-ide kreatif.

3. Implementasi (Implementation) merupakan langkah-langkah yang menimbulkan suatu pemecahan atau penemuan di pasar. Untuk barang-barang yang diproduksi, langkah-langkah tersebut terdiri dari aktivitas:

a. perekayasaan (Engineering);

b. pembuatan perkakas (Tooling);

c. produksi (Manufacturing);

d. uji pemasaran (Test Marketing);

e. promosi (Promotion).

Upaya Mengusahakan Timbulnya Suatu Iklim Untuk Kreativitas Organisatoris.

Kreativitas dapat dipupuk dalam sebuah iklim yang permisif, yakni sebuah iklim yang merangsang timbulnya eksplorasi ide-ide baru, dan cara-cara baru untuk mengerjakan pekerjaan yang ada.

Para manajer dapat mempertimbangkan perasaan dan pemikiran real demikian, tetapi tetap mengupayakan penciptaan sebuah iklim yang dapat merangsang kreativitas.

Langkah-langkah Timbulnya Suatu Iklim Untuk Kreativitas Organisatoris:

1. Kembangkanlah sikap penerimaan terhadap perubahan:

Para anggota organisasi harus diyakinkan bahwa perubahan akan menguntungkan diri mereka dan organisasi di tempat mereka bekerja.

2. Rangsanglah ide-ide baru:

Semua manajer harus mengutarakan dengan tegas dan jelas bahwa mereka senang menerima saran-saran tentang pendekatan-pendekatan baru.

3. Berilah lebih banyak peluang untuk interaksai:

Iklim kreatif yang permisif banyak dibantu, apabila para individu diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan anggota-anggota kelompok mereka sendiri dan kelompok kerja lain. Interaksi demikian dapat mendorong pertukaran informasi yang bermanfaat, ide-ide yang mengalir secara bebas dan perspektif-perspektif segar tentang problem-problem yang ada.

4. Berilah toleransi terhadap kegagalan:

Banyak ide baru ternyata tidak raktis dan tidak bermanfaat sama sekali sehingga para manajer menerima dan memahami fakta bahwa waktu dan sumber-sumber daya akan diinvestasi dalam eksperimentasi dengan ide-ie baru yang mungkin tidak berhasil.

5. Siapkan sasaran-sasaran yang jelas dan kebebasan untuk mencapainya:

Para anggota organisasi harus memiliki suatu tujuan dan pengarahan bagi kreativitas mereka. Apabila mereka mendapatkan petunjuk-petunjuk dan kendala-kendala yang layak, maka para manajer dapat mengendalikan hingga tingkat tertentu, waktu dan uang yang diinvestasikan dalam perilaku kreatif.

6. Berilah penghargaan:

Para individu kreatif juga termotivasi untuk bekerja lebih giat dalam pelaksanaan tugas-tugas yang menarik minat mereka. Dengan jalan memberikan penghargaan dalam bentuk bonus atau kenaikan gaji, maka para manajer membuktikan bahwa perilaku kreatif dihargai dalam organisasi-organisasi mereka.

Kreativitas dibutuhkan dalam segala bidang

Berfikir kreatif sudah dilakukan orang-orang sejak jaman dahulu kala. Kita dapat mengatakan bahwa tanpa adanya orang yang kreatif, mungkin dunia kita tidak akan seperti sekarang.

Seorang dikatakan kreatif apabila:

1. Mengobservasi situasi-situasi dan problem-problem yang sebelumnya tidak diperhatikan;

2. Menghubungkan ide-ide dan problem yang dicapai dari banyak macam sumber;

3. Cenderung memiliki banyak alternatif-alternatif terhadap sesuatu subyek tertentu;

4. Menentang hal-hal yang bersifat klise dan tidak dihalangi oleh kebiasaan;

5. Mendayagunakan dan menimba kekuatan-kekuatan emosional dan mental di bawah sadar yang dimilikinya;

6. Memiliki fleksibilitas tinggi dalam pemikirannya, tindakan-tindakannya dan perumusan saran-saran.

Hambatan-hambatan yang menghalangi pemikiran kreatif yaitu:

1. Hambatan yang dibuat sendiri;

2. Tidak berusaha untuk menentang kenyataan;

3. Satu jawaban tepat;

4. Penyesuaian;

5. Mengevaluasi terlampau cepat;

6. Takut kelihatan bodoh.

Pedoman pokok ketika berfikir kreatif:

1. Menunda penilaian;

2. Memisahkan produksi ide dari pada evaluasi ide;

3. Tertawalah apabila ide aneh, tetapi jangan mentertawakannya.

Cara mengubah ide baru yang orisinal adalah:

1. Gunakan untuk maksud lain dengan mencari penggunaan adisional untuk sebuah produk yang ada, sistem atau ide;

2. Usahakan untuk menerapkan sebuah ide baru yang menguntungkan, mungkin seringkali dapat dicapai dengan jalan menerapkan sebuah ide dalam bidang lain atau masa lampau dan menerapkannya dengan masalah yang sedang dihadapi;

3. Adakanlah perubahan-perubahan untuk melayangkan pikiran dalam usaha mengubah bentuk, warna, rasa, bau atau ciri-ciri lain sebuah produk;

4. Perbesar dengan menambah fungsi atau dimensi untuk menunjukkan semua perubahan-perubahan yang dapat dilakukan;

5. Perkecil dengan dikuranginya macam-macam fungsi atau dimensi;

6. Adakanlah substitusi pada bahan-bahan yang berbeda, personil, pendekatan-pendekatan untuk menggantikan hal-hal yang ada merupakan contoh lain dari konversi ide;

7. Susunlah kembali perubahan-perubahan penting dengan hanya mengubah macam-macam elemen yang ada;

8. Balikkanlah tindakan yang dapat menimbulkan hasil yang diiinginkan;

9. Kombinasilah ide-ide baru.

2 thoughts on “Memanaje Kreatifitas Organisatoris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *