PENELITIAN ILMIAH IV

By | Maret 7, 2010

“HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP KONSELOR DENGAN KENAKALAN REMAJA DI SMP NEGERI 7 KEBUMEN
KABUPATEN KEBUMEN KELAS II SEMESTER 2
TAHUN PELAJARAN 2003/2004”

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945 alinea ke empat telah ditegaskan bahwa tujuan proklamasi adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dari sini jelas bahwa untuk membangun suatu bangsa tidak akan lepas dengan apa yang disebut dengan pendidikan.
Peran pendidikan dalam membangun bangsa diwujudkan dalam bentuk mengembangkan individu-individu untuk memahami, menghargai serta dapat memanfaatkan sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang dimiliki negara. Hal ini perlu sekali dipahami tidak saja oleh kalangan pendidikan, tetapi juga oleh seluruh masyarakat demi tercapainya tujuan negara yaitu masyarakat yang adil makmur serta dapat tercapai kehidupan yang bahagia dunia akhirat.
Pendidikan Nasional dirumuskan dalam Undang – Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989 bertujuan untuk: mecerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertaqwa dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rokhani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab yang besar untuk dapat mencapai tujuan tersebut, dimana lahan garapannya adalah anak-anak dan remaja. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut pendidik harus benar-benar memahami ciri kepribadian remaja serta dapat melayani sesuai dengan keinginan atau kata hati remaja. Masa remaja adalah masa peralihan. Kartini Kartono (1990 : 31) menyebutkan bahwa menurut pendapat Oswald Kroh masa remaja adalah masa menentang, dimana pada masa ini remaja sering menunjukkan sikap melawan, memberontak, agresif, keras kepala, emosinya meledak–ledak yang diselingi duka hati, kesunyian, kebingungan dan lain–lain.
Masa remaja merupakan masa dimana individu dalam proses pertumbuhannya telah mencapai kematangan dan periode ini juga merupakan masa peralihan dari kehidupan masa kanak-kanak ke masa dewasa (Dadang Sulaeman, 1995:1)
E. H Erikson (dalam Singgih D. Gunarso, 2000 : 7) mengemukakan bahwa adolensia merupakan masa di mana terbentuk suatu perasaan baru mengenai identitas. Identitas mencakup cara hidup pribadi yang dialami sendiri dan sulit dikenal oleh orang lain. Secara hakiki ia tetap sama walaupun telah mengalami berbagai macam perubahan.
Pola pikir pada masa remaja lebih maju dari pada sebelumnya dan mulai menjangkau ke depan, namun pola pikir remaja sangat membutuhkan bimbingan dari orang dewasa, agar pembentukan kepribadiannya bisa lebih terarah menuju pribadi yang lebih mantap. Dalam pergaulannya remaja mengalami interaksi sosial yaitu saling mempengaruhi dan dipengaruhi, merubah atau dirubah dan meniru. Remaja masih dalam pancaroba atau labil, sehingga remaja paling mudah terkena gejala interaksi, meskipun tidak semua interaksi itu bersifat negatif. Namun pada masa remaja sekarang jika ia tidak terbimbing akan mudah terpengaruh dan terseret berbagai macam ulah dan tingkah laku yang menyimpang yang sering disebut kenakalan remaja.
Dengan berpegang pada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan cara atau alat dalam memenuhi kebutuhannya maka kegiatan belajar di sekolah pada hakekatnya merupakan manifestasi pemenuhan kebutuhan tersebut. Sekolah hendaknya menyadari hal tersebut, baik dalam mengenal kebutuhan-kebutuhan dalam diri murid-murid maupun dalam memberikan bantuan sebaik-baiknya. Jika individu gagal dalam memenuhi kebutuhan atau menyesuaikan diri, maka ia akan sampai pada suatu situasi salah suai atau maladjustment. Gejala-gejala salah suai ini akan diwujudkan dalam bentuk tingkah laku yang kurang wajar. Kenyataan kelainan tingkah laku ini sering nampak pada murid-murid di sekolah seperti sikap yang agresif, rasa rendah diri, bersikap bandel, menentang, mengacau, menyendiri, menarik perhatian dan sebagainya. Gejala semacam itu seringkali banyak menimbulkan berbagai masalah bagi sekolah dan orang tua, oleh karena itu sekolah hendaknya memberikan suatu usaha yang nyata untuk menanggulangi gejala-gejala tersebut. Mereka perlu mendapatkan bimbingan yang sebaik-baiknya untuk memperoleh penyesuaian yang sewajarnya. Disinilah layanan bimbingan dan konseling memberikan peranan yang cukup penting dalam mencegah ataupun menyembuhkan kenakalan remaja.
Layanan bimbingan dan konseling dirasa sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan karena bimbingan konseling merupakan pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku. Sehingga layanan bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat memenuhi tugas – tugas perkembangan yang meliputi aspek pribadi sosial, pendidikan dan karier sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Meskipun layanan bimbingan dan konseling sangat penting dan dibutuhkan oleh dunia pendidikan, tetapi kenyataan menunjukkan masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan sekolah, bahkan konseling ditugaskan untuk mencari siswa yang bersalah dan diberi wewenang untuk mengambil tindakan bagi siswa – siswa yang bersalah. Konselor didorong untuk mencari bukti atau berusaha agar siswa mengaku bahwa siswa telah berbuat sesuatu yang tidak pada tempatnya atau merugikan (Prayitno, Erman Anti, 1999 : 122). Berdasarkan pandangan tersebut adalah wajar bila siswa tidak mau datang kepada konselor karena menganggap bahwa dengan datang kepada konselor berarti menunjukkan bahwa siswa mengalami ketidakberesan tertentu, tidak dapat berdiri sendiri, telah berbuat salah, dan predikat – predikat negatif lainnya. Padahal seharusnya konselor di sekolah menjadi teman dan kepercayaan siswa, konselor hendaknya menjadi tempat pencurahan kepentingan siswa, pencurahan segala sesuatu yang terasa di hati dan terpikirkan oleh siswa. Petugas Bimbingan dan Konseling bukanlah pengawas atau polisi yang selalu mencurigai dan akan menangkap siswa yang bersalah melainkan petugas bimbingan dan konseling adalah kawan yang dapat sebagai penunjuk jalan, pembangkit kekuatan dan pembina tingkah laku – tingkah laku positip yang dikehendaki, sehingga siapapun yang berhubungan dengan konselor akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.
Persepsi siswa yang salah terhadap konselor menyebabkan siswa kurang memanfaatkan layanan Bimbingan Karir dalam mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dari dalam sekolah ataupun permasalahan yang berasal dari luar sekolah sehingga siswa yang bermasalah tidak mendapatkan solusi permasalahan yang dihadapi dengan benar, siswa cenderung melampiaskan permasalahan kepada tingkah laku – tingkah laku yang melanggar dan bertentangan dengan hukum agama, norma sosial dan norma masyarakat serta nilai – nilai moral, merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan merusak diri sendiri, yang dikenal dengan kenakalan remaja. Sehingga persepsi siswa yang salah terhadap konselor dapat menyebabkan peran konselor dalam mengatasi kenakalan remaja terhambat, karena tidak terdapat kerjasama yang baik antara konselor dengan remaja sendiri dalam mengatasi kenakalan remaja.
Karena pentingnya peran konselor dalam proses Bimbingan dan Konseling di sekolah, maka penulis merasa tertarik dan terdorong untuk mengadakan penelitian tentang hubungan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “ Apakah ada hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004?”

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004.

D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang diharapkan dapat tercapai dalam penelitian ini, maka penelitian diharapkan dapat bermanfaat untuk :

1.Manfaat Teoritis
Dengan tersusunnya penelitian ilmiah ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu Bimbingan dan Konseling tentang hubungan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja.

2. Manfaat praktis
a. Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada guru sebagai salah satu bahan dalam memberikan bimbingan kepada siswa mengenai pentingnya bimbingan dari konselor dalam rangka melancarkan proses belajar mengajar serta mengatasi masalah pribadi siswa sehingga siswa mempunyai persepsi yang baik terhadap konselor, dengan demikian siswa akan memanfaatkan keberadaan Guru Bimbingan Karir selaku konselor dalam mengatasi segala permasalahan sehingga dapat mencegah kenakalan remaja.
b. Guru Pembimbing
Bagi guru pembimbing dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau informasi tentang hubungan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja. Sehingga dapat sebagai masukan dalam memberikan bimbingan kepada siswa didik di sekolah selanjutnya dapat meningkatkan kinerja Guru Bimbingan Karir selaku konselor, terutama untuk mendorong siswa agar mempunyai persepsi yang benar terhadap konselor, dengan harapan siswa akan memanfaatkan layanan bimbingan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi sehingga kenakalan remaja dapat dihindarkan.
c. Orang Tua
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan tentang hubungan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja, sehingga orang tua dapat memperbaiki persepsi putra putrinya terhadap konselor dalam rangka mencegah dan mengatasi kenakalan remaja.
d. Siswa
Bagi siswa akan memberikan masukan tentang pentingnya layanan bimbingan konseling, sehingga siswa mampu mengembangkan persepsi yang positif terhadap konselor dan bersedia mendapatkan layanan Bimbingan Karir dari konselor untuk mencegah kenakalan remaja.
e. Peneliti
Dengan penelitian ini membantu peneliti sebagai wahana latihan pengembangan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dalam usahanya mengubah persepsi siswa terhadap konselor sehingga dapat membantu konselor dalan mencegah kenakalan remaja.
E. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalah tafsiran kata demi kata dalam judul penelitian ini penulis memberikan batasan – batasan sebagai berikut:
1. Hubungan
Suharsini Arikunto (1986:30) mengatakan bahwa korelasi merupakan hubungan antar dua fenomena atau lebih. Dalam hal ini fenomena yang dimaksud adalah persepsi siswa terhadap konselor sebagai fenomena pertama dan kenakalan remaja sebagai fenomena ke dua.
Dalam hal ini berarti penelitian ini bersifat korelasional, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua variabel yang ada.
2. Persepsi Siswa terhadap Konselor
Persepsi adalah proses penerimaan stimulus yang mengenai individu kemudian diorganisasikan, diinterprestasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya itu (Bimo Walgito, 2001: 53). Sementara menurut Partini Suardiman ( 1995 : 47) persepsi adalah proses yang sifatnya komplek dalam menerima dan menginterpretasikan informasi yang datangnya dari berbagai indera penerima.
Konselor adalah seseorang yang dengan kemampuan khusus yang dimilikinya, membantu konseli untuk memahami diri sendiri, keadaan sekarang, dan kemungkinan keadaan masa depan yang dapat diciptakan dengan menggunakan potensi – potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan baik pribadi maupun masyarakat, lebih jauh dapat belajar memecahkan masalah – masalah dan menemukan kebutuhan – kebutuhan yang akan datang (Prayitno dan Erman Anti, 1999 : 101). Berpijak dari pengertian tersebut, yang merupakan konselor dalam penelitian ini adalah Guru Bimbingan Karir yang bertugas di SMP Negeri 7 Kebumen.
Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan persepsi siswa terhadap konselor dalam penelitian ini adalah proses mental dalam diri siswa yang berupa proses penerimaan, tanggapan, ataupun suatu bentuk interprestasi terhadap layanan bimbingan dari Guru Bimbingan Karir selaku konselor untuk membantu siswa memahami dirinya, memecahkan masalah dan menemukan kebutuhan – kebutuhan yang akan datang. Persepsi dalam hal ini menyangkut kompetensi konselor baik secara profesional dan personal.
3. Siswa Kelas II SMP Negeri 7 Kebumen
Dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan siswa kelas II SMP Negeri 7 Kebumen adalah peserta didik pada jenjang pendidikan formal sekolah lanjutan tingkat pertama kelompok belajar kelas II lembaga pendidikan SMP Negeri 7 Kebumen.
4. Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan bentuk-bentuk perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah maupun hukum agama dan adat, serta pelanggaran kepada hukum pidana maupun hukum perdata.
Menurut Sudarsono ( 1991 : 124) yang dimaksud dengan kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang berupa pelanggaran hukum, agama, norma sosial dan norma masyarakat serta nilai – nilai moral yang merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan merusak diri sendiri.
Yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah perbuatan- perbuatan yang merupakan pelanggaran hukum, agama, norma sosial dan norma masyarakat serta nilai – nilai moral yang merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan merusak diri sendiri yang dilakukan oleh siswa kelas II SMP Negeri 7 Kebumen.

F. Sistematika Penelitian Ilmiah
Sesuai dengan judul dan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka sistematika penulisan penelitian ilmiah ini adalah sebagai berikut:
Bab I adalah pendahuluan, pada bab ini dikemukakan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II adalah kajian pustaka dan hipotesis, yaitu menerangkan atau menganalisa dan mermbahas permasalahan secara teoritis tentang persepsi siswa terhadap konselor, kenakalan remaja, hubungan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja dan hipotesis.
Bab III adalah metode penelitian, pada bab ini membahas tentang rancangan penelitian, variabel penelitian, definisi operasional variabel, populasi dan sampel, instrumen penelitian, pengumpulan data, uji validitas dan reliabilitas dan analisis data.
Bab IV adalah hasil penelitian, pada bab ini dikemukakan tentang deskripsi data, pengujian hipotesis dan pembahasan.
Bab V adalah penutup, pada bab ini dikemukakan tentang kesimpulan dan saran.
Pada bagian akhir dari skripsi ini berisi tentang daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan dimana anak-anak dan remaja sebagai peserta didik serta orang dewasa sebagai pengajar, pembimbing dan pendidik sehingga terjadi proses pendidikan. Dalam proses pendidikan ini anak-anak remaja mendapat bantuan dari orang dewasa sehingga dapat mengembangkan diri.
Untuk dapat berkembang secara wajar, konselor mempunyai peran yang penting terutama dalam mengatasi masalah kesulitan baik yang mendapat gangguan eksternal maupun internal. Proses Bimbingan dan Konseling harus didukung minimal dua unsur yaitu peserta didik yang mengalami kesulitan dan konselor sebagai yang membantu mengatasi masalah, dimana siswa harus ada keterbukaan dan konselor harus berpegang pada tata aturan yang telah ditentukan bagi konselor.

A. Tinjauan tentang Persepsi Siswa terhadap Konselor
1. Pengertian Persepsi Siswa terhadap Konselor
Siti Partini Suardiman (1995) dalam bukunya Psikologi Perkembangan berpendapat bahwa Persepsi adalah proses yang sifatnya kompleks dalam menerima dan menginterpretasikan informasi yang datangnya dari berbagai indera penerima secara garis besar. Urut – urutan terjadinya persepsi dapat dirumuskan sebagai berikut : suatu benda atau obyek menimbulkan kekuatan merangsang indera, organ indera memberikan tanda – tanda ke dalam bahasa aktifitas syaraf, aktifitas syaraf memberitahukan ke otak, yang kemudian memproses dan menghasilkan persepsi terhadap benda atau obyek tersebut.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa terjadinya persepsi harus didukung oleh dua unsur yaitu adanya obyek atau rangsangan dari luar dan adanya aktifitas organ tubuh yang terdiri dari alat indera syaraf otak.
Bimo Walgito (2001: 53) dalam bukunya Pengantar Psikologi Umum mengemukakan bahwa persepsi merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh individu sehingga merupakan sesuai yang berarti dan merupakan aktivitas yang intergrated dalam diri individu karena merupakan aktivitas yang intergrated maka seluruh pribadi, seluruh apa yang ada dalam diri individu ikut aktif berperan dalam persepsi itu.
Dimyati Mahmud (dalam Mujiono, 1997: 12) berpendapat bahwa persepsi adalah menafsirkan stimulus yang ada di dalam otak.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diperoleh suatu pengertian persepsi adalah proses mental atau kejiwaan pada individu dalam usahanya mengenal sesuatu yang meliputi aktivitas mengolah suatu stimulus yang ditangkap indera dari suatu obyek sehingga dapat diperoleh pengertian atau pengetahuan dan pemahaman tentang stimulus yang dihadapi.
Konselor adalah seseorang yang dengan kemampuan khusus yang dimilikinya, membantu konseli untuk memahami diri sendiri, keadaan sekarang, dan kemungkinan keadaan masa depan yang dapat diciptakan dengan menggunakan potensi – potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan baik pribadi maupun masyarakat, lebih jauh dapat belajar memecahkan masalah – masalah dan menemukan kebutuhan – kebutuhan yang akan datang (Prayitno dan Erman Anti, 1999: 9).
Konselor mempunyai tugas melakukan konseling yaitu membantu individu – individu mengatasi hambatan perkembangan dirinya dan untuk dapat mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya.
Berdasarkan seluruh uraian di atas dapat diperoleh pengertian persepsi siswa terhadap konselor adalah proses mental atau kejiwaan pada diri siswa dalam usahanya mengenal dan memberi tanggapan terhadap layanan konselor untuk membantu siswa mengatasi hambatan perkembangan dirinya dan untuk dapat mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya.

2. Proses Terjadinya Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan. Penginderaan merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat penerimanya yaitu alat indera. Hal ini senada dengan pendapat Bimo Walgito (2001 : 53) bahwa alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya.
Menurut aliran Al Gestalt dalam Dimyati Mahmud dalam Mujiono (1997: 13) mengemukakan bahwa Persepsi yang terjadi pada seseorang secara keseluruhan dimana orang itu terbiasa menyusun berbagai hal dalam pikirannya menjadi suatu bentuk atau gambaran yang membentuk keseluruhan yang berarti.
Irwanto (dalam Subur Sukardi (2000 :13) mengemukakan bahwa seseorang menangkap berbagai gejala diluar diri orang itu melalui lima indera yang dimiliki . Proses penerimaan rangsang ini disebabkan oleh penginderaan (sensation). Tetapi pengertian seseorang akan lingkungan atau dunia sekitarnya bukan sekedar hasil penginderaanya.
Berdasarkan uraian di atas dapat diperoleh suatu pengertian bahwa proses terbentuknya persepsi didahului oleh penginderaan yang dapat diterima oleh diri seseorang secara keseluruhan, kemudian diinterprestasikan oleh seseorang sehingga orang tersebut menyadari tentang apa yang diinderanya itu.
Pada waktu pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling akan terbentuk suatu penafsiran terhadap konselor pada diri siswa . Konselor yang cenderung hanya menangani siswa-siswa yang bermasalah akan terbentuk persepsi yang negatip pada diri siswa, siswa akan menganggap bahwa konselor sebagai polisi sekolah yang berusaha untuk mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan sekolah. Sebaliknya jika konselor dapat berdiri sebagai teman dan kepercayaan siswa maka pada diri siswa akan terbentuk persepsi yang positip, bahwa konselor merupakan kawan yang dapat sebagai penunjuk jalan, pembangkit kekuatan dan pembina tingkah laku.

3. Pengaruh Persepsi Siswa terhadap Konselor dalam Bimbingan Konseling
Pelayanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk memberikan jasa, manfaat atau kegunaan, ataupun keuntungan kepada seseorang yang menggunakan pelayanan itu. Manfaat tersebut akan terwujud melalui melalui dilaksanakannya fungsi – fungsi Bimbingan dan Konseling. Fungsi pemahaman memberikan manfaat dipahaminya diri klien, masalah klien dan lingkungan klien baik oleh klien sendiri maupun konselor (Prayitno, Erman Anti, 1999 : 225)
Namun fungsi pemahaman tersebut sering terganggu dengan adanya persepsi yang salah terhadap konselor. Banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin serta keamanan sekolah, sehingga konselor sering ditugaskan untuk mencari siswa yang bersalah dan diberi wewenang untuk mengambil tindakan bagi siswa – siswa yang bersalah. Konselor didorong untuk mencari bukti atau berusaha agar siswa mengaku bahwa siswa telah berbuat sesuatu yang tidak pada tempatnya atau merugikan. Pandangan tersebut dapat berakibat siswa akan enggan untuk datang kepada konselor karena menganggap bahwa dengan datang kepada konselor berarti menunjukkan bahwa siswa mengalami ketidakberesan tertentu, tidak dapat berdiri sendiri, telah berbuat salah, dan predikat – predikat negatif lainnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa persepsi yang salah terhadap konselor akan menghambat jalannya proses bimbingan dan konseling sebaliknya persepsi yang benar terhadap konselor akan membantu proses bimbingan dan konseling.
Agar dapat memberikan persepsi yang benar pada diri siswa dan pihak lain dan menegakkan serta menumbuhkembangkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah maka sebaiknya konselor berpegang pada prinsip – prinsip bimbingan dan konseling seperti yang dikemukakan Belkin (dalam Prayitno, Erman Anti, 1999 : 223–224 ) sebagai berikut:
a. Konselor harus memulai kariernya sejak awal dengan program kerja yang jelas, dan memiliki kesiapan yang tinggi untuk melaksanakan program tersebut. Konselor juga memberikan kesempatan kepada seluruh personal sekolah dan siswa untuk mengetahui program – progran yang hendak dijalankan.
b. Konselor harus selalu mempertahankan sikap profesional tanpa mengganggu keharmonisan hubungan antara konselor dengan personal lainnya dan siswa. Dalam hal ini konselor harus menonjolkan keprofesionalannya, tetapi tetap menghindari sikap kesombongan profesionalisme.
c. Konselor bertanggung jawab untuk memahami peranannya sebagai konselor profesional dan menterjemahkan peranannya itu ke dalam kegiatan nyata. Konselor harus pula mampu dengan sebaik-baiknya menjelaskan kepada orang – orang dengan siapa konselor akan bekerja sama tentang tujuan yang hendak dicapai oleh konselor.
d. Konselor bertanggung jawab kepada semua siswa baik siswa – siswa yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang berkemungkinan putus sekolah, yang mengalami kesulitan belajar maupun siswa – siswa yang memiliki sifat – sifat istimewa, yang berpotensi rata – rata, yang pemalu dan menarik diri dari khalayak ramai serta yang bersikap menarik perhatian atau mengambil muka guru, konselor dan personal sekolah.
e. Konselor harus memahami dan mengembangkan kompetensi untuk membantu siswa – siswa yang mengalami masalah dengan kadar yang cukup parah dan siswa – siswa yang menderita gangguan emosional, khususnya melalui penerapanprogram – program kelompok, kegiatan pengajaran di sekolah dan kegiatan di luar sekolah, serta bentuk – bentuk kegiatan lainnya.
f. Konselor harus mampu bekerjasama secara efektif dengan kepala sekolah, memberikan perhatian dan peka terhadap kebutuhan, harapan, dan kecemasan – kecemasannya. Konselor memiliki kesempatan yang baik untuk menegakkan citra bimbingan dan konseling profesional apabila memiliki hubungan yang saling menghargai dan saling memperhatikan dengan kepala sekolah.
Konseling merupakan hubungan timbal balik antara konselor dengan klien yang bersifat professional baik secara individual maupun secara kelompok yang dirancang untuk membantu klien mencapai perubahan yang bermakna bagi kehidupannya. Layanan konseling itu sendiri bertujuan untuk memberikan bantuan pada siswa agar dapat memahami dirinya sendiri, dapat memberikan tanggapan terhadap pengaruh lingkungan, dapat menyesuaikan dirinya baik dengan dirinya sendiri maupun lingkungan dan mengembangkan serta memperjelas tujuan hidupnya sehingga siswa dapat mencapai perkembangan yang optimal dengan tercapainya kesejahteraan baik bagi diri pribadi maupun masyarakat.
Adapun tujuan layanan konseling menurut Ramli (1996 : 3-4) adalah :
a. Memfasilitasi perubahan tingkah laku klien
Layanan konseling bermaksud untuk mencapai perubahan tingkah laku yang memungkinkan klien hidup secara lebih produktif dan memuaskan dalam hidupnya, sehingga ada pandangan perubahan tingkah laku sebagai suatu akibat dan adanya proses konseling meskipun tingkah laku spesifik bukanlah penekanan dalam pengalaman konseling.
b. Meningkatkan keterampilan memecahkan masalah
Hampir semua individu mengalami kesulitan dalam proses perkembangan, tidak dapat melaksanakan semua tugas perkembangan dengan sempurna, untuk itu konseling bertugas membantu individu belajar mengatasi situasi-situasi baru dan tuntutan baru.
c. Meningkatkan kemampuan membuat keputusan
Konseling bertugas membantu siswa memperoleh informasi dan memperjelas serta memilah-milah cirri-ciri pribadi dan masalah emosional yang berkaitan dengan keputusan – keputusan yang dibuat, karena itu konseling membantu klien memahami dan mempelajari proses pembuatan keputusan sehingga klien pada akhirnya dapat membuat keputusan sendiri secara realistis.
d. Memperbaiki hubungan
Dalam kehidupan sehari-hari setiap individu akan berinteraksi dengan individu lain, namun banyak klien memiliki masalah yang berkaitan dengan orang lain, dalam hal ini konselor bekerja sama dengan klien untuk membantunya memperbaiki kualitas hubungan dengan orang lain.
e. Memfasilitasi perkembangan potensi klien
Konselor bertugas meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan klien dengan memberikan kesempatan kepada kepada klien untuk belajar menggunakan kemampuan dengan minatnya secara optimal, hal ini akan dapat dicapai dengan cara memperbaiki keefektifan pribadi.
Agar konselor dapat memberikan layanan konseling secara optimal sehingga tercapai tujuan layanan konseling seperti yang telah diuraikan di atas, maka konselor dituntut untuk mengembangkan kompetensinya baik kompetensi profesional, kompetensi personal maupun kompetensi sosial.
a. Kompetensi profesional
Kompetensi konselor secara profesional diantaranya adalah bahwa
konselor harus mengetahui dan meyakini pentingnya pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, mengetahui apa pelayanan bimbingan dan konseling itu, tujuan, sasaran pertolongan, alat dan perbekalan yang minimal diperlukan untuk melaksanakan tugasnya serta pengetahuan tentang cara-cara menolong dengan bagaimana pengetrapannya dalam pelaksanaan tugas.
Kemampuan prosesional seorang konselor juga dapat dilihat dari kinerja konselor itu sendiri, mengingat pekerjaan konselor merupakan pekerjaan panggilan hati nurani. Konselor yang profesional akan mempunyai sebuah program kerja yang baik, terarah serta berkesinambungan dan melaksanakan program kerja yang telah direncanakan dengan sebaik-baiknya.
Kemampuan profesional seorang konselor setiap kali perlu ditambah, diperluas, diperdalam atau diperbarui sehingga pelayanan akan berkembang demikian juga ilmu dan teknik pelaksanaannya.
Kompetensi profesional konselor akan mempengaruhi persepsi siswa terhadap konselor itu sendiri. Konselor yang mempunyai kompetensi profesional akan mendorong siswa untuk mempunyai persepsi yang benar terhadap konselor. Konselor yang profesional akan mampu memberikan layanan bimbingan kepada siswa dengan memuaskan, sehingga dengan sendirinya siswa akan merasa membutuhkan layanan konseling dalam mengatasi masalah yang dihadapi, karena siswa menganggap konselor merupakan teman dan kepercayaan yang dapat sebagai penunjuk jalan dan pemberi harapan.
b. Kompetensi personal
Faktor personal dalam proses layanan konseling adalah konselor dan konseli, dalam pelaksanaan layanan konseling sangat diperlukan suasana keterbukaan baik konselor maupun konseli. Seorang konselor harus mampu mendorong konseli untuk membuka diri agar dapat memecahkan permasalahan, berbicara sejujur mungkin dan berterus terang tentang dirinya sendiri sehingga dengan keterbukaan ini penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan klien dapat dilaksanakan. Keterbukaan dalam perihal konselor yaitu dengan kesediaan konselor menjawab pertanyaan-pertanyaan klien dan mengungkapkan diri bila konselor sendiri jika dikehendaki klien.
Yang juga merupakan kompetensi personal seorang konselor adalah pribadi konselor itu sendiri. Seorang konselor yang mempunyai kepribadian yang baik akan senantiasa menyuarakan kebenaran serta menjaga kesejahteraan dirinya sendiri dan orang lain baik itu siswa ataupun pengelola sekolah yang lain. Kepribadian konselor ini akan berpengaruh pada waktu memberikan layanan konseling sehingga kompetensi personal konselor berpengaruh terhadap konselor dalam memberikan layanan konseling, karena konselor yang mempunyai kompetensi personal yang baik akan mudah menjalin hubungan yang baik dengan konseli dan personal sekolah yang lain. Siswa akan mempunyai persepsi yang benar terhadap konselor jika konselor senantiasa dapat bertindak juga memberikan kesejahteraan pada siswa karena setiap siswa berhadapan dengan konselor akan memperoleh suasanan yang sejuk dan menyenangkan.
c. Kompetensi sosial
Seorang konselor harus mampu menjaga keharmonisan hubungan baik antara konselor dengan personal lainnya dan konselor dengan siswa. Karena layanan konseling tiadak dapat menyendiri, masalah – masalah yang dihadapi siswa sering terkait dengan orang tua siswa, guru dan pihak-pihak lain seringkali sangat menentukan keberhasilan layanan konseling. Konselor yang mempunyai kompetensi sosial yang baik akan mampu menjalin hubungan kerjasama yang saling mengerti, dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah.
Hubungan yang baik dengan klien dilaksanakan agar klien merasa aman, nyaman dan segera terlihat dalam hubungan konselor sehingga konselor harus dapat menjaga hubungan ini dengan menerima klien penuh perhatian, kehangatan dan pemahaman tentang klien, hal ini akan menumbuhkan persepsi yang benar pada diri siswa kepada konselor.

B. Tinjauan tentang Kenakalan Remaja
1. Pengertian Remaja
Masa remaja sering disebut dengan masa adolesen. Kata adolesen berasal dari bahasa latin adolesecere yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Masa remaja dimulai sejak anak mencapai kematangan seksual sampai mencapai masa dewasa secara hukum. Pada masa ini cenderung mengalami masa tertekan, jiwanya bergelora, serta masa – masa mereka sedang mencari identitas.
Menurut Siti Partini Suardiman (1995 : 121) masa adolesen terbagi atas dua periode yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Menurut Peaget yang dikutip Kartini Kartono masa adolesen adalah masa dimana individu berintegrasi dengan orang dewasa sehingga satu sisi belum mempunyai kemampuan menjadi orang dewasa, tetapi di sisi lain mereka merasa sudah tidak kanak – kanak lagi atau telah dewasa. Dengan keadaan inilah kedudukan remaja masuk dalam masa transisi sehingga mempunyai kecenderungan jiwanya labil.
Berdasarkan uraian di atas dapat diperoleh pengertian masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak – anak ke masa dewasa yang sedang mengalami perkembangan baik perkembangan fisik maupun perkembangan rohani.
Untuk lebih jelasnya akan diuraikan taraf perkembangan remaja menurut Sugeng Hariyadi, dkk (1999 : 27) yang secara garis besar dibagi atas empat periode yaitu periode praremaja, periode remaja awal, periode remaja tengah, dan periode remaja akhir. Adapun karakteristik untuk setiap periode adalah sebagai berikut :
a. Periode Praremaja
Dalam periode ini, terjadi gejala-gejala yang hampir sama baik untuk pria maupun wanita. Perubahan fisik belum nyata, tetapi anak-anak memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat pada anak gadis biasanya dalam bentuk kegemukan. Remaja wanita mengalami perkembangan fisik lebih cepat dari remaja pria. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsang-rangsang dari luar dan responnya biasanya berlebihan, sehingga remaja mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang.
b. Periode Remaja Awal
Setelah perubahan alat-alat kelamin fisik menjadi nyata, maka terlihat bahwa anak-anak mempunyai kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Remaja banyak menyendiri dan mereka terasing. Kontrol terhadap diri sendiri bertambah sulit dan cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar, untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Artinya remaja harus memilih antara berdiri sendiri atau menggantungkan diri pada orang tuanya. Permasalahan inilah yang menjadi masalah utama pada periode ini.
c. Periode Remaja Tengah
Masalah masih berkisar pada rasa tanggung jawab yang harus dipikul sendiri. Dalam hal ini nilai-nilai sosial juga terbawa-bawa sebagai masalah, karena remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk dan ingin membentuk nilai mereka sendiri. Remaja sering protes tentang hal ini, lebih-lebih jika orang tua ingin memaksa supaya menuruti nilai-nilai dari orang tua. Protes-protes ini sering dibawakan dengan penuh semangat (secara emosional) sehingga sering menentang orang tua.
d. Periode Remaja Akhir
Periode ini berlangsung dari 18 sampai 21 tahun, remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa. Para orang tua dan juga masyarakat mulai memberikan kepercayaaan yang selayaknya. Hubungan dengan orang tua menjadi lebih mudah. Remaja sudah bebas penuh dan emosinya juga sudah mulai stabil. Remaja telah memilih suatu cara hidup yang dapat dipertanggung jawabkan.

2. Pengertian Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan bentuk-bentuk perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah maupun hukum agama dan adat, serta pelanggaran kepada hukum pidana maupun hukum perdata.
Menurut Sudarsono ( 1991 : 124) yang dimaksud dengan kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang berupa pelanggaran hukum maupun perbuatan – perbuatan anti sosial seperti berada di tempat – tempat umum pada jam – jam pelajaran, berperilaku buruk, serta penyalahgunaan obat – obat terlarang.
Hasan Basri (1996 : 13) berpendapat kenakalan remaja adalah suatu penyimpangan tingkah laku yang dilakukan oleh remaja hingga mengganggu
ketentraman dirinya sendiri dan orang lain.
Singgih D Gunarso (2000 : 19) mengemukakan kenakalan remaja merupakan perbuatan atau tingkah laku yang bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai – nilai moral, yang dilakukan oleh mereka yang berumur antara 13 – 17 tahun.
Sarlito Wirawan Sarwono (1997 : 196) berpendapat kenakalan remaja adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.
Dari pendapat – pendapat di atas dapat diperoleh pengertian kenakalan remaja adalah tindakan perbuatan atau tingkah laku remaja yang melanggar dan bertentangan dengan hukum, agama, norma sosial dan norma masyarakat serta nilai – nilai moral yang merugikan orang lain, mengganggu ketentraman umum dan merusak diri sendiri.

3. Faktor – faktor yang menyebabkan Kenakalan Remaja
Hasan Basri (1996 : 14 – 15) menjelaskan faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya kenakalan pada umumnya dibagi dua yaitu:
a. Faktor yang terdapat dalam diri individu
Faktor – faktor yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan
kenakalan remaja adalah perkembangan pribadi yang terganggu, individu mempunyai cacat tubuh, individu mempunyai kebiasaan yang mudah terpengaruh, taraf intelegensi yang rendah.
Persepsi dan pengalaman individu juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan kenakalan remaja karena dengan persepsi individu dapat menyadari, mengerti tentang keadaan lingkungan sekitar dan keadaan diri individu yang bersangkutan. Seluruh apa yang ada dalam individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berfikir, kerangka acuan serta aspek – aspek lainnya yang ada dalam diri individu akan ikut berperan dalam persepsi itu (Bimo Walgito : 2001 : 54). Jadi dapat disimpulkan kemampuan siswa untuk dapat menyadari dan mengerti tentang keadaan diri sendiri dan keadaan lingkungan sekitar dapat menyebabkan kemampuan siswa untuk dapat menghindari perilaku – perilaku negatif yang sering disebut dengan kenakalan remaja, hal ini disebabkan siswa akan mencari solusi terbaik dari permasalahan yang sedang dihadapi baik itu permasalahan yang datangnya dari diri sendiri ataupun dari lingkungan.

b. Faktor yang terdapat di luar diri individu
Faktor – faktor yang terdapat di luar diri individu yang menyebabkan kenakalan remaja adalah lingkungan pergaulan yang kurang baik, kondisi keluarga yang tidak mendukung terciptanya perkembangan kepribadian anak yang baik, pengaruh media masa, kurangnya kasih sayang yang dialami anak – anak dan karena kecemburuan sosial atau frustasi terhadap keadaan sekitar.
Jika dipandang dari segi psikologi maka penyebab timbulnya kelakuan yang nakal antara lain disebabkan oleh timbulnya minat terhadap diri sendiri, timbulnya minat terhadap lawan jenis, timbulnya kesadaran terhadap diri sendiri dan timbulnya hasrat untuk dikenal oleh orang lain (Hasan Basri, 1996 : 15).
Dari penjelasan di atas dapat diperoleh pengertian bahwa kenakalan remaja bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri tetapi merupakan perpaduan dari beberapa kondisi yang dialami anak remaja. Jika dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja kurang mendapat pendidikan dan pengarahan yang penuh tanggung jawab dari kedua orang tua, maka kenaklan remaja merupakan akibat yang tidak dapat terhindarkan lagi.

4. Macam – Macam Kenakalan Remaja
Jensen (dalam Sarlito Wirawan Sarwono, 1997 : 200–201) mengemukakan kenakalan remaja dapat dikelompokkan dalam empat jenis yaitu:

a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain
Macam – macam bentuk kenakalan ini adalah perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dan sebagainya.
b. Kenakalan yang menimbulkan korban materi
Macam – macam bentuk kenakalan ini adalah perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan sebagainya.
c. Kenakalan sosial yang tiadak menimbulkan korban di lain pihak orang lain.
Macam – macam bentuk kenakalan ini adalah pelacuran, hubungan seks sebelum menikah, penyalahgunaan obat dan sebagainya.
d. Kenakalan yang melawan status
Macam – macam bentuk kenakalan ini adalah mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara pergi dari rumah, membantah perintah orang tua dan sebagainya.
Wright dalam Hasan Basri (1997 : 16-17) membagi jenis – jenis kenakalan remaja dalam beberapa keadaan, adalah :
a. Neurotic delinquency
Remaja bersifat pemalu, terlalu perasa, suka menyendiri, gelisah dan mengalami perasan rendah diri. Mereka mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu kenakalan seperti mencuri dan melakukan tindkan yang agresif secara tiba – tiba tanpa alasan karena dikuasai khayalan dan fantasi sendiri.
b. Unsocialized delinguent
Suatu sikap yang melawan kekuasaan seseorang, suka bermusuhan dan pendendam, tidak pernah merasa salah dan tidak pula menyesali perbuatan yang telah dilakukan.
c. Pseudo social delinguent
Remaja yang mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap kelompok sehingga sikap – sikapnya tampak patuh, setia dan kesetiakawanan yang baik, sehingga jika melakukan tindakan kenakalan bukan atas dasar kesadaran sendiri.
Sedangkan Singgih D. Gunarso (2000 : 19 – 21) berpendapat kenakalan remaja dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu:
a. Kenakalan yang bersifat amoral dan asosial dan tidak diatur dalam undang – undang sehiungga sulit digolongkan pelanggaran hukum.
Sebagai contoh bentuk kenakalan dalam golongan ini adalah gejala kenakalan yang dilakukan oleh remaja di sekolah lanjutan, antara lain:
1) Membolos, pergi meninggalkan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah.
2) Bohong, memutarbalikan kenyataan dengan tujuan menipu orang atau menutup kesalahan.
3) Keluyuran, pergi sendiri maupun kelompok tanpa tujuan, dan mudah menimbulkan perbuatan iseng yang negatif.
4) Memiliki senjata tajam dan membahayakan orang lain, sehingga mudah terangsang untuk mempergunakan.
5) Bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk, sehingga mudah terjerat dalam perkara – perkara yang benar – benar kriminal.
6) Berpakaian yang tidak pantas dan minum – minuman keras atau menghisap ganja sehingga merusak dirinya maupun orang lain.
7) Membaca buku – buku porno dan kebiasaan mempergunakan bahasa yang tidak sopan, tiadak senonoh seolah – olah, menggambarkan kurang perhatian dan pendidikan dari orang tua.
8) Berpesta pora semalam suntuk tanpa pengawasan sehingga mudah timbul tindakan – tindakan yang kurang bertanggung jawab

b. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum
Kenakalan yang bersifat melanggar hukum diselesaikan melalui hukum. Contoh bentuk kenakalan ini adalah:
1) Perjudian dan segala macam bentuk perjudian yang mempergunakan uang.
2) Pencurian dengan kekerasan maupun tanpa kekerasan seperti pencopetan, perampasan dan penjambretan.
3) Penggelapan barang.
4) Penipuan dan pemalsuan.
5) Pelanggaran tata susila
6) Tindakan – tindakan anti – sosial seperti perbuatan yang merugikan orang lain.
Dalam penelitian ini macam – macam bentuk kenakalan yang diteliti adalah bentuk – bentuk kenakalan yang sering dilakukan siswa yaitu sikap terhadap lingkungan diantaranya perilaku perkelahian, ugal – ugalan dan kebut – kebutan, sikap siswa terhadap narkotika, obat – obatan terlarang serta minuman keras, sikap siswa terhadap peraturan – peraturannya diantaranya mencuri, berjudi, membolos dan melanggar hukum serta pergaulan antara pria dan wanita yang sesuai atau tidak sesuai dengan norma – norma hukum seperti melakukan kekerasan seksual dan hal – hal yang bersifat porno.

3. Hubungan antara Persepsi Siswa terhadap Konselor dengan Kenakalan Remaja
Persepsi siswa terhadap konselor merupakan proses mental atau kejiwaan pada diri siswa dalam usahanya mengenal dan memberi tanggapan terhadap layanan konselor untuk membantu siswa mengatasi hambatan perkembangan dirinya dan untuk dapat mencapai kematangan pribadi secara dewasa.
Konselor adalah seseorang yang dengan kemampuan khusus yang dimilikinya, membantu konseli untuk memahami diri sendiri, keadaan sekarang, dan kemungkinan keadaan masa depan yang dapat diciptakan dengan menggunakan potensi – potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan baik pribadi maupun masyarakat, lebih jauh dapat belajar memecahkan masalah – masalah dan menemukan kebutuhan – kebutuhan yang akan datang (Prayitno dan Erman Anti, 1999 : 101)
Konselor juga berupaya untuk membantu siswa agar dapat menyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh – pengaruh lingkungan yang diterima, membantu siswa mengatasi hambatan perkembangan dirinya dan untuk dapat mencapai kematangan pribadi secara dewasa.
Jika konselor dalam menjalankan tugasnya yaitu memberikan layanan konseling pada siswa atas dasar kompetensi profesional, kompetensi personal dan kompetensi sosial maka akan dengan sendirinya menumbuhkan dan mengembangkan persepsi yang baik pada diri siswa terhadap konselor.

Siswa yang mempunyai persepsi yang baik terhadap konselor, akan memanfaatkan layanan konselor dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapi, sehingga dapat mencegah bentuk perilaku negatif siswa yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah maupun hukum agama dan adat, serta pelanggaran kepada hukum pidana maupun hukum perdata.
Persepsi siswa yang baik terhadap konselor akan membantu tugas konselor dalam mencegah dan mengatasi kenakalan remaja karena konselor dan siswa dapat bekerja sama dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa, sehingga semakain positip persepsi siswa terhadap konselor semakin berkurang pula kenakalan remaja. Sebaliknya persepsi siswa yang kurang baik terhadap konselor akan menghambat tugas konselor dalam mencegah dan mengatasi kenaklan remaja, hal ini disebabkan siswa kurang memanfaatkan layanan Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi permasalahan. Siswa cenderung melampiaskan permasalahan dengan perilaku negatip atau dengan kata lain persepsi siswa yang kurang baik terhadap konselor akan mendukung kenakalan remaja . Sehingga dapat disimpulkan persepsi siswa terhadap konselor turun maka kenakalan remaja semakin meningkat, sebaliknya persepsi siswa terhadap konselor semakin positip maka kenakalan remaja turun.

C. Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas dapat disusun hipotesis sebagai berikut: ada hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004.

BAB III
METODE PENELITIAN

Ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan dengan adanya penelitian, yang mana penelitian-penelitian tersebut akan menggunakan berbagai metode yang relevan dengan penelitiannya. Oleh karena itu dalam penelitian peran dari metode sangatlah penting.
Sebelum penulis membahas tentang macam – macam metode penelitian penting yang gunakan dalam pengumpulan data, maka terlebih dahulu akan diuraikan mengenai pengertian metode penelitian. Menurut Poerwodarminto (1984 : 649) pengertian metode adalah ilmu yang membicarakan cara-cara yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Lukman Ali (1995 : 1028) adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis guna mengembangkan prinsip-prinsip umum.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil pengertian metode penelitian adalah suatu pengetahuan yang memberikan petunjuk dan syarat-syarat yang harus ditempuh dalam mengadakan penelitian yaitu tentang berbagai cara kerja yang disesuaikan dengan obyek studi dalam usaha mengumpulkan, menemukan, mengembangkan, menganalisa atau menguji kebenaran suatu fakta atau data.
Sumadi Suryabrata (1998 : 24) berpendapat penelitian korelasional bertujuan untuk mendeteksi sejauhmana variasi-varasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Sedangkan Suharsimi Arikunto, (1993 : 27) menjelaskan penelitian yang bertujuan mencari hubungan antara dua fenomena di sebut penelitian korelasional. Berdasarkan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan suatu penelitian yang bertujuan mendeteksi sejauhmana variasi-varasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi disebut dengan penelitian korelasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja, maka penelitian ini merupakan penelitian korelasional.
A. Rancangan Penelitian
Adalah suatu kewajiban seorang peneliti bahwa sebelum melakukan atau memulai pekerjaannya harus merencanakan hal – hal yang akan dikerjakan. Dalam penelitian ini penulis merencanakan langkah – langkah sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah
Memilih masalah penelitian bukanlah pekerjaan yang mudah untuk setiap orang karena ada masalah penelitian yang juga tidak dapat dipecahkan melalui penelitian karena berbagai sebab, antara lain karena tidak tersedianya data. Untuk itu diperlukan kepekaan dari calon peneliti.
Setelah diperoleh informasi yang cukup tentang permasalahan yang ingin peneliti ungkap maka langkah yang selanjutnya peneliti lakukan yaitu merumuskan masalah sehingga akan jelas dari mana penelitian ini akan dimulai dan penelitian ini akan berakhir. Adapun permasalahan yang penulis kemukakan dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004?”
2. Merumuskan anggapan dasar
Anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti di dalam melaksanakan penelitiannya. Dalam penelitian anggapan dasar dari peneliti adalah bahwa persepsi siswa terhadap konselor bermacam-macam dan tingkat kenakalan setiap siswa juga berbeda.
3. Memilih pendekatan
Yang dimaksud dengan pendekatan dalam penelitian ini adalah metode atau cara yang digunakan dalam mengadakan penelitian. Penentuan pendekatan ini akan sangat menentukan variable atau obyek penelitian dan sekaligus menentukan subyek penelitian atau sumber untuk memperoleh data. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja maka penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasional.

4. Menentukan variabel dan sumber data
Penentuan variabel dan sumber data harus diidentifikasi secara jelas agar dengan tepat dapat ditentukan alat apa yang akan digunakan untuk mengumpulkan data. Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu persepsi siswa terhadap konselor sebagai variabel bebas dan kenakalan remaja sebagai variabel terikat, sedangkan sumber data adalah siswa kelas II SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004.
5. Menentukan dan menyusun instrumen
Setelah peneliti mengetahui dengan pasti apa yang akan diteliti dan dari mana data bisa diperoleh, maka langkah yang segera dilakukan adalah menentukan alat untuk mengumpulkan data. Pada penelitian ini untuk mendapatkan data penelitian digunakan metode angket.
6. Pengumpulan data
Mengumpulkan data adalah pekerjaan yang sukar, karena apabila datanya salah, tentu saja kesimpulkan salah pula, dan hasil penelitiannya menjadi palsu. Untuk mendapatkan data yang benar maka sebelum angket digunakan sebagai alat pengumpul data maka diujicobakan terlebih dahulu untuk menentukan validitas dan reliabilitas soal.
7. Analisis data
Agar data yang telah diperoleh dari penelitian dapat memberikan rangkuman keterangan yang dapat dipahami, maka dibutuhkan pengolahan lebih lanjut tentang data tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja, sesuai dengan sifat data yang diperoleh dan tujuan penelitian maka dalam hal ini penulis menggunakan teknik statistik korelasi product moment.
8. Menarik kesimpulan
Menarik kesimpulan merupakan langkah terakhir dari kegiatan penelitian. Dalam menarik sesuatu kesimpulan penelitian, peneliti tidak boleh mendorong atau mengarahkan agar hipotesisnya terbukti, karena tidak terbuktinya suatu hipotesis bukanlah suatu pertanda bahwa apa yang dilakukan oleh peneliti itu salah.
9. Menulis laporan
Kegiatan penelitian menuntut agar hasilnya disusun, ditulis dalam bentuk laporan penelitian agar hasilnya diketahui orang lain, serta prosedurnyapun diketahui orang lain pula sehingga dapat mengecek kebenaran pekerjaan penelitian tersebut.

B. Variabel Penelitian

Variabel adalah salah satu unsur yang harus ada dalam penelitian, dengan adanya variabel suatu penelitian dapat dilaksanakan secara efektif. Menurut Suharsimi Arikunto (1996 : 97) variabel adalah obyek penelitian yang bervariasi.
Sesuatu yang menjadi obyek penelitian merupakan faktor yang menyatu dan harus ada karena pentingnya variabel itu dalam sebuah penelitian. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah persepsi siswa terhadap konselor sebagai variabel bebas dan kenakalan remaja sebagai variabel terikat.

C. Definisi Operasional

Agar sebuah variabel dapat diukur, maka perlu dirumuskan definisinya, definisi operasional merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel dapat diukur. Adapun definisi operasional untuk masing-masing variabel dalam penelitian:
1. Persepsi siswa terhadap konselor
Variabel bebas dari penelitian ini adalah persepsi siswa terhadap konselor.Definisi operasional dari persepsi siswa terhadap konselor adalah proses mental atau kejiwaan pada diri siswa dalam usahanya mengenal dan memberi tanggapan terhadap layanan konselor untuk membantu siswa mengatasi hambatan perkembangan dirinya dan untuk dapat mencapai kematangan pribadi secara dewasa.
Berdasarkan definisi operasional tersebut dapat disusun indikator dari variabel penelitian sebagai berikut:

Tabel 1. Aspek dan Indikator Persepsi Siswa terhadap Konselor
Variabel Aspek Indikator
Persepsi siwa terhadap konselor 1.Pengamatan

2.Tanggapan

3.Pemahaman a. Pengamatan siswa tentang program – program layanan bimbingan dari konselor di sekolah
b. Pengamatan siswa tentang pelaksanaan program layanan bimbingan dari konselor di sekolah
c. Pengamatan siswa terhadap kompetensi atau kemampuan konselor waktu melaksanakan program layanan bimbingan konseling di sekolah.
a. Tanggapan siswa tentang program – program layanan bimbingan dari konselor di sekolah
b. Tanggapan siswa tentang pelaksanaan progran layanan bimbingan dari konselor di sekolah
c. Tanggapan siswa terhadap kompetensi atau kemampuan konselor dalam melaksanakan program layanan bimbingan konseling
a. Pemahaman siswa tentang program BK
b. Pemahaman siswa terhadap kompetensi atau kemampuan konselor dalam melaksanakan program layanan konseling di sekolah.

2. Kenakalan Remaja
Variabel terikat dari penelitian ini adalah kenakalan remaja. Definisi operasional dari kenakalan remaja adalah perilaku negatif remaja, yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah maupun hukum agama dan adat, serta pelanggaran kepada hukum pidana maupun hukum perdata.
Berdasarkan definisi operasional variabel penelitian tersebut dapat disusun indicator penelitian sebagai berikut:
Tabel 2. Aspek dan Indikator Variabel Kenakalan remaja
Variabel Aspek Indikator
1.Sikap terhadap lingkungan
2.Penggunaan Narkoba
3.Peraturan Sekolah

4. Pergaulan a. Sikap siswa terhadap perilaku perkelahian, ugal – ugalan dan kebiasaan kebut – kebutan
a. Sikap siswa terhadap narkotika, obat – obat terlarang serta minuman keras.
a. Sikap siswa terhadap peraturan di sekolah, diantaranya masuk sekolah, pulang sekolah, membolos, pakaian, penampilan diri dan tugas sekolah.
b. Sikap siswa terhadap peraturan – peraturan atau norma yang berlaku di masyarakat.
a. Sikap siswa terhadap pergaulan antara pria dan wanita yang sesuai dan tidak sesuai dengan norma hukum seperti melakukan kekerasan seksual ,hal – hal yang bersifat porno.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Dalam setiap penelitian selalu dihadapkan pada sumber data, yang sering disebut dengan populasi dan sampel. Dalam menentukan sumber data tergantung pada permasalahan yang diajukan dalam penelitian serta hipotesis yang hendak diuji kebenarannya.
Populasi yaitu keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi Arikunto, 1996:102). Sedangkan menurut Sudjana (1989 : 6) pengertian populasi adalah semua totalitas nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Dari batasan tersebut, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004 yang terdiri dari tujuh kelas yaitu kelas II A berjumlah 40 siswa, kelas II B berjumlah 40 siswa, kelas II C berjumlah 40 siswa, kelas II D berjumlah 40 siswa , kelas II E berjumlah 40 siswa, kelas II F berjumlah 40 siswa dan kelas II G berjumlah 40 siswa, sehingga jumlah keseluruhan 280 siswa.

2. Sampel
Sampel adalah sebagian individu dari seluruh populasi yang diselidiki (Sutrisno Hadi, 1986 : 76). Suharsimi Arikunto (1996 : 107) berpendapat “Jika populasi lebih dari 100 maka dapat diambil sebagian yaitu antara 10-15 % atau lebih.
Berdasarkan pendapat di atas maka penelitian ini mengambil sampel sebesar 12,5 % dari seluruh populasi sejumlah 48 siswa. Adapun pengambilan sampel dari populasi dengan menggunakan teknik proposional random sampling yaitu dengan cara undian. Teknik proposional random sampling adalah pengambilan sampel dengan tanpa pandang bulu, sehingga semua individu dalam populasi mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Adapun cara yang digunakan adalah cara undian, dengan langkah – langkah sebagai berikut:
a. Membuat daftar semua siswa yang menjadi populasi atau subyek penelitian, kemudian membuat kode nomor urut kepada semua siswa.
b. Menuliskan kode-kode tersebut masing-masing pada selembar kertas kecil, kemudian dibuat gulungan kecil dari kertas yang berisi kode itu.
c. Gulungan kertas itu dimasukan ke dalam kaleng yang diberi lubang kemudian dengan kemudian dikocok sambil dikeluarkan sebanyak jumlah sampel yang diambil yaitu 48 melalui lubang kaleng itu.
Adapun tabulasi pengambilan sampel dari masing – masing kelas adalah:
Tabel 3. Tabulasi Pengambilan Sampel
No Kelas Jumlah Siswa
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7. II A
II B
II C
II D
II E
II F
II G 7 Siswa
7 Siswa
7 Siswa
7 Siswa
7 Siswa
7 Siswa
6 Siswa
Jumlah 48 Siswa

E. Metode Pengumpulan Data.
Metode Pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode angket / kuesioner. Menurut Suharsimi Arikunto (1996:112) kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang pribadinya, atau hal-hal yang telah diketahui. Metode angket dalam penelitian ini untuk memperoleh data tentang persepsi siswa terhadap konselor dan data tentang kenakalan remaja.
Langkah-langkah yang penulis tempuh untuk mendapatkan data dalam penelitian ini adalah:
1. Persiapan Penelitian
Persiapan penelitian merupakan langkah yang amat penting di dalam penelitian, terutama di dalam penelitian ilmiah. Oleh karena itu agar hasil penelitian dapat sesuai dengan yang ingin dicapai, maka perlu dipersiapkan yang baik.
Sebelum melaksanakan penelitian langkah-langkah yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
a. Pemilihan Judul
Langkah yang sangat penting dalam melaksanakan penelitian adalah pemilihan judul dan tahap ini merupakan masalah yang berat bagi penulis, namun demikian dengan kecermatan dan kejelian penulis dapat menentukan judul penulisan penelitian ilmiah ini.
b. Penentuan Pokok Masalah
Setelah menentukan judul penelitian, maka langkah selanjutnya adalah menentukan pokok masalah. Pokok masalah yang telah ditentukan harus teratur, sistematis dan terarah pada pokok permasalahan.
c. Persiapan Metode Pengumpulan Data
Persiapan metode pengumpulan data adalah langkah dalam menentukan metode yang digunakan untuk mendapatkan data penelitian, adapun metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode angket. Sumardi Suryabrata (1988 : 15) berpendapat angket atau kuesioner adalah daftar pertanyaan yang harus dijawab atau diisi berdasar sejumlah subyek yang diselidiki. Sedangkan Nasution (1990 : 128) berpendapat bahwa angket adalah daftar pertanyaan yang didistribusikan kepada responden untuk diisi dan dikembalikan atau dapat juga dijawab dibawah pengawasan peneliti, yang ditujukan untuk meminta keterangan tertentu tentang fakta yang diketahui oleh responden atau juga mengenai pendapat atau sikap
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diambil pengertian bahwa angket merupakan metode pengumpul data yang dilakukan dengan cara memberi data pertanyaan tertulis pada responden dan diminta untuk menjawabnya, kemudian berdasarkan jawaban tersebut peneliti mengambil kesimpulan mengenai subyek yang diselidiki.
Pemakaian angket dalam penelitian ini berdasarkan pada suatu anggapan – Anggapan tersebut mengatakan bahwa subyek penelitian adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri. Apa yang dinyatakan oleh subyek kepada penyelidik adalah benar dan dapat dipercaya. Interpretasi subyek tentang pernyataan-pernyataan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan penyelidik (Sutrisno Hadi, 1986 : 157).
Kelebihan yang dimiliki dalam penggunaan metode angket atau kuesioner adalah biaya relatif rendah, praktis, efisien, para pelaksana tidak dibutuhkan keahlian mengenai lapangan yang sedang diselidiki (Sumadi Suryabrata, 1984:17).
Sedangkan kelemahan menggunakan metode angket atau kuesioner adalah perumusan tidak mudah, penggunaan istilah harus teliti dan tepat. Penginterprestasikan jawaban dalam data karena bahasa responden tidak terlalu mempunyai arti sama, jawaban responden sulit di cek (Sumadi Suryabrata, 1984:17).
Kelemahan yang terdapat dalam metode tersebut harus ada pemecahannya. Adapun untuk mengatasi kelemahan metode angket dilakukan upaya antara lain dengan cara pada waktu penyusunan angket harus diperhatikan tiap butir itemnya singkat dan bahasanya yang praktis sehingga mudah dimengerti responden, jelas dan sesuai sengan kemampuan pemahaman responden. Penyebaran angket dilakukan secara langsung sehingga jika ada hal yang belum dimengerti segera dapat dijelaskan serta mempermudah pengambilan angket. Dengan demikian diharapkan jawaban dari angket tersebut sesuai dengan keadaan responden yang sebenarnya.
2. Penentuan Subyek Penelitian
Seperti yang telah dikemukakan, penelitian ini merupakan penelitian sampel dengan teknik pengambilan sampel adalah proposional random sampling sehingga individu yang terpilih sebagai sampel dipilih secara acak.
3. Penyusunan Alat Ukur
Di atas telah dijelaskan tentang teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode angket. Metode angket digunakan untuk mendapatkan data tentang persepsi siswa terhadap konselor dan data tentang kenakalan remaja. Adapun langkah-langkah dalam penyusunan alat ukur adalah :
a. Menentukan obyek yang akan diungkap
Obyek yang akan diungkap pada penelitian ini adalah persepsi siswa terhadap konselor dan kenakalan remaja pada siswa kelas II SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004.
b. Menjabarkan obyek tersebut
Persepsi siswa terhadap konselor dapat dijabarkan dalam beberapa aspek dan indikator seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. Aspek dan Indikator Persepsi Siswa terhadap Konselor
Variabel Aspek Indikator
Persepsi siwa terhadap konselor 1.Pengamatan

2.Tanggapan

3.Pemahaman a. Pengamatan siswa tentang program – program layanan bimbingan dari konselor di sekolah
b. Pengamatan siswa tentang pelaksanaan program layanan bimbingan dari konselor di sekolah
c. Pengamatan siswa terhadap kompetensi atau kemampuan konselor waktu melaksanakan program layanan bimbingan di sekolah.
a. Tanggapan siswa tentang program – program layanan bimbingan dari konselor di sekolah
b. Tanggapan siswa tentang pelaksanaan progran layanan bimbingan dari konselor di sekolah
c. Tanggapan siswa terhadap kompetensi atau kemampuan konselor dalam melaksanakan program layanan bimbingan di sekolah
a. Pemahaman siswa tentang program BK
b. Pemahaman siswa terhadap kompetensi atau kemampuan konselor dalam melaksanakan program layanan bimbingan di sekolah

Kenakalan remaja dapat dijabarkan dalam beberapa aspek dan indikator eperti pada tabel dibawah ini:
Tabel 5. Aspek dan Indikator Variabel Kenakalan remaja
Variabel Aspek Indikator
1.Sikap terhadap lingkungan
2.Penggunaan Narkoba
3.Peraturan Sekolah

4. Pergaulan a. Sikap siswa terhadap perilaku perkelahian, ugal – ugalan dan kebiasaan kebut – kebutan
a. Sikap siswa terhadap narkotika, obat – obat terlarang serta minuman keras.
a. Sikap siswa terhadap peraturan di sekolah, diantaranya masuk sekolah, pulang sekolah, membolos, pakaian, penampilan diri dan tugas sekolah.
b. Sikap siswa terhadap peraturan – peraturan atau norma yang berlaku di masyarakat.
a. Sikap siswa terhadap pergaulan antara pria dan wanita yang sesuai dan tidak sesuai dengan norma hukum seperti melakukan kekerasan seksual ,hal – hal yang bersifat porno.

c. Membuat Tabulasi Penyebaran Item atau Kisi-kisi
Persepsi siswa terhadap konselor adalah proses mental atau kejiwaan pada diri siswa dalam usahanya mengenal dan memberi tanggapan terhadap layanan konselor untuk membantu siswa mengatasi hambatan perkembangan dirinya dan untuk dapat mencapai kematangan pribadi secara dewasa. Definisi variabel tersebut kemudian dijabarkan kedalam kisi-kisi. Kisi-kisi angket persepsi siswa terhadap konselor penulis sajikan pada lampiran 1.
Kenakalan remaja adalah perilaku negatif remaja, yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah maupun hukum agama dan adat, serta pelanggaran kepada hukum pidana maupun hukum perdata. Definisi variabel tersebut kemudian dijabarkan kedalam kisi-kisi. Kisi-kisi angket kenakalan remaja penulis sajikan pada lampiran 2.

d. Membuat Item Soal
Berdasarkan kisi-kisi yang sudah tersusun maka untuk masing-masing variabel dijabarkan dalam item soal angket yang berupa kalimat pernyataan. Alat ukur yang penulis buat ada 40 item untuk angket persepsi siswa terhadap konselor dan 40 item untuk angket kenakalan remaja. Bentuk dari item soal penulis sajikan pada lampiran 3.

e. Menentukan Alternatif Jawaban atau Option
Alternatif jawaban yang disediakan ada empat option untuk nomor angket, yaitu: A. Sangat Setuju , B. Setuju , C. Tidak Setuju, D. Sangat Tidak setuju
f. Membuat Skor Item
Skor untuk masing-masing jawaban pertanyaan positip adalah A = 4, B = 3, C = 2 dan D = 1. Sedangkan untuk jawaban pertanyaan yang negatif adalah A=1, B = 2, C = 3 dan D = 4.
g. Melaksanakan Uji Coba (Try Out)
Sebelum soal angket digunakan sebagai alat untuk mendapatkan data penelitian soal angket diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui validitas dan reliabilitas soal angket.

F. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkatan-tingkatan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 1996 : 160). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang harus diukur sehingga dapat mengungkap data variabel yang diteliti dengan tepat.
Untuk menguji validitas penulis menggunakan teknik validitas isi dengan rumus korelasi Product Moment sebagai berikut:
NXY – (X)(Y)
rxy =
{(NX2-(X)2}{NY2-(Y)2}

Keterangan:
rxy = koefisien korelasi antara x dan y
X = jumlah skor item
Y = jumlah skor total
X2 = Jumlah kuadrat dari skor item
Y2 = jumlah kuadrat dari skor total
N = jumlah responden (Suharsimi Arikunto, 1996:254).
Untuk menentukan suatu angket dikatakan valid atau tidak valid, adalah dengan cara membandingkan antara nilai koefisien korelasi (r) yang diperoleh dari perhitungan dengan nilai koefisien korelasi (r) Tabel Harga Kritik Product Moment. Apabila nilai perhitungan lebih kecil daripada nilai r tabel Harga Kritik Product Moment, maka angket yang digunakan sebagai instrumen penelitian dikatakan tidak valid. Sebaliknya bila nilai r perhitungan lebih besar dari pada nilai r Harga Kritik Product Moment, maka angket yang digunakan sebagai instrumen penelitian bersifat valid.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas berfungsi untuk menunjukkan bahwa instrumen cukup dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data atau tidak. Instrumen yang reliabel akan
menghasilkan data yang sudah dapat dipercaya (Suharsimi Arikunto, 1996 : 170).
Dalam pengujian reliabelitas penulis menggunakan teknik belah dua dengan rumus Spearman Brown sebagai berikut:
2 X r ½ ½
r11 =
(1 + r ½ ½ )

Keterangan :
r11 = reliabilitas yang dicapai
r½½ = indeks korelasi antara dua belahan instrumen
X = skor gasal
Y = skor genap
(Suharsimi Arikunto, 1996 : 191).
Jika dari hasil uji coba soal diperoleh jumlah soal yang valid ganjil, maka untuk pengujian reliabelitas penulis menggunakan rumus Alpha sebagai berikut:
k  2b
r11 = 1 –
( k – 1 ) 2t

Keterangan:
r11 = reliabilitas yang dicapai
k = banyaknya soal
 2b = jumlah variansi butir
2t = variansi total
(Suharsimi Arikunto, 1996 : 201).
Untuk menentukan bahwa suatu angket dikatakan reiabel atau tidak reliabel adalah dengan cara membandingkan antara nilai koefisien korelasi (r11) yang diperoleh dari (r11) perhitungan dengan nilai koefisien korelasi (r) Tabel Harga Kritik Product Moment, apabila nilai perhitungan lebih kecil dari nilai r Harga KritikProduct Moment maka angket yang digunakan sebagai instrumen penelitian tidak reliabel sehingga tidak dapat dipercaya. Sebaliknya bila nilai perhitungan lebih besar dari nilai r Harga Kritik Product Moment, maka angket yang digunakan sebagai instrumen penelitian dikatakan reliabel sehingga dapat dipercaya.

G. Teknik Analisa Data.
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu persepsi siswa terhadap konselor sebagai variabel bebas dan kenakalan remaja sebagai variabel terikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja, teknik analisis data yang digunakan adalah analisa korelasi product moment yaitu:

NXY – (X)(Y)
rxy =
{(NX2-(X)2}{NY2-(Y)2}

Keterangan:
rxy = koefisien korelasi antara x dan y
X = jumlah skor variabel X yaitu jumlah skor angket persepsi
siswa terhadap konselor.
Y = jumlah skor variabel Y yaitu jumlah skor angket
kenakalan remaja.
X2 = Jumlah kuadrat dari skor variabel X
Y2 = jumlah kuadrat dari skor variabel Y
N = jumlah responden (Suharsimi Arikunto, 1996:254).

Untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara dua variabel digunakan keputusan uji jika Harga statistika r Hitung > rTabel berati Ho ditolak ini berarti ada hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja, dan sebaliknya jika Harga statistika r Hitung
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data
1. Persiapan Penelitian
Langkah awal yang dilaksanakan dalam suatu penelitian adalah persiapan penelitian, langkah ini merupakan hal yang penting untuk menunjang kelancaran dan keberhasilan dalam melaksanakan suatu penelitian.
Adapun persiapan yang telah penulis lakukan meliputi perijinan, persiapan pembuatan alat pengumpul data, penentuan populasi dan sample, serta uji coba angket (Try Out).
Sebelum melaksanakan penelitian yang sesungguhnya maka angket terlebih dahulu diuji cobakan untuk menghitung validitas dan reliabilitasnya. Sedangkan uji coba angket penelitian ini penulis lakukan pada siswa SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004. Hasil uji coba angket disajikan dalam bentuk tabulasi data yang dapat dilihat pada lampiran 7 dan lampiran 8.
Angket yang penulis buat ada 40 item soal, kemudian dikenakan pada 40 siswa Kelas II SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004 sebagai subyek uji coba. Analisis yang dilakukan meliputi validitas dan reliabilitas.

2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
a. Hasil uji validitas
Sebelum penulis melakukan analisis data, maka terlebih dahulu mengolah dan menganalisa jawaban skala sikap dari responden, menjadi sebuah data yang berupa tabulasi angka, dengan cara menstransfer data yang berupa option A, B, C dan D menjadi angka 4, 3, 2, ,1 untuk pernyataan positif dan option A, B, C dan D menjadi angka 1, 2, 3, 4 untuk pernyataan negatif. Hasil tabulasi data penulis sajikan pada lampiran.
Tabulasi hasil skala sikap kemudian dianalisis tingkat validitasnya dengan menggunakan rumus product moment sebagai berikut:
NXY – (X)(Y)
rxy =
{(NX2-(X)2}{NY2-(Y)2}
Keterangan:
RXY : Indeks korelasi antara variabel X dan Y.
X : Skor item
Y : Skor total
N : jumlah responden
a). Angket Persepsi Siswa terhadap Konselor
Untuk pengujian validitas dari hasil lampiran kemudian dimasukkan ke rumus product moment sebagai berikut:
Untuk Soal No. 1 diperoleh:
X1 = 109  Y1 = 4331
 X12 = 313  Y12 = 469929
 X1Y1 = 11985 N = 40
Kemudian harga – harga di atas dimasukkan ke dalam rumus korelasi Product Moment yaitu:
N X1Y1 – (X1)( Y1)
rxy =
{(N X12-( X1)2}{N Y12-( Y1)2}
(40) (11985) – (109) (4331)
=
{(40)( 313)-( 109)2}{(40)( 469929)-( 4331)2}
7321
=
5030,3

= 1,455
Diperoleh rxy = 1,455 bila dikonsultasikan dengan tabel dengan N = 40 harga r t;0,05 = 0,312 dan r t;0,01 = 0,403 maka rXY>r t;0,05 dan rXY>r t;0,01 maka soal angket untuk nomor 1 dikatakan valid. Selanjutnya item – item angket lainnya dalam mencari validitas, pengerjaannya sama dengan item nomor satu di atas dan hasilnya dapat dilihat pada lampiran .
Berdasarkan tabel pada lampiran dapat disimpulkan bahwa angket persepsi siswa terdadap konselor dengan N = 40 maka r kritik = 0.312 maka diperoleh cacah butir 40 soal yang tidak valid ada 2 butir soal yaitu nomor 36 dan 11.
b) Angket Kenakalan Remaja
Untuk pengujian validitas dari hasil lampiran 5 kemudian dimasukkan ke rumus product moment sebagai berikut:
X1 = 110  Y1 = 4215
 X12 = 322  Y12 = 444739
 X1Y1 = 11832 N = 40

Kemudian harga – harga di atas dimasukkan ke dalam rumus korelasi Product Moment yaitu:
N X1Y1 – (X1)( Y1)
rxy =
{(N X12-( X1)2}{N Y12-( Y1)2}

(40) (11832) – (110) (4215)
=
{(40)( 322) – (110)2}{(40)( 444739)-( 4215)2}

9632
=
4266.3
= 2.257

Diperoleh rxy = 2.257 bila dikonsultasikan dengan tabel dengan N = 40 harga r t;0,05 = 0,312 dan r t;0,05 = 0.403 maka rXY>r t;0,05 serta rXY>r t;0,01 maka soal angket untuk nomor 1 dikatakan valid. Selanjutnya untuk item – item angket lainnya validitas angket dicari dengan cara yang sama dan hasilnya penulis sajikan pada lampiran .
Berdasarkan tabel pada lampiran dapat disimpulkan bahwa angket persepsi siswa terdadap konselor dengan N = 40 maka r kritik = 0.312 maka diperoleh cacah butir 40 soal yang tidak valid ada 4 butir soal yaitu nomor 5, 11, 34, dan 39.
1. Hasil Uji Reliabilitas Angket
Dalam perhitungan tingkat reliabilitas dari angket persepsi siswa terhadap konselor dan kenakalan remaja, penulis menggunakan teknik belah dua. Teknik ini dilakukan dengan cara mengelompokkan terlebih dahulu skor item nomor gasal atau ganjil sebagai belahan pertama dan skor item nomor genap sebagai belahan kedua. Kemudian jumlah skor item belah ganjil dikorelasikan dengan jumlah skor item belah genap akan diperoleh nilai r XY yang dapat dilihat pada lampiran dan lampiran .
Berdasarkan table pada lampiran , kemudian dihitung tingkat reliabilitas angket persepsi siswa terhadap konselor dan kenakalan remaja dengan menggunakan rumus Spearman Brown sebagai berikut:
2 X r ½ ½
r11 =
(1 + r ½ ½ )
Keterangan :
r11 = Nilai koefisien korelasi skor ganjil dan skor genap.
r½½ = Indeks korelasi antara dua belahan instrumen, diperoleh dengan menggunakan rumus korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut:
NXY – (X)(Y)
rxy =
{(NX2-(X)2}{NY2-(Y)2}
Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran diperoleh harga reliabilitas angket persepsi siswa terhadap konselor adalah r 11 = 1,562, kemudian dikonsulta- sikan dengan r tabel pada n = 40 harga r tabel = 0.312 untuk taraf signifikansi  = 0.05 dan r tabel = 0,403 untuk taraf signifikansi  = 0.01. Maka diperoleh r 11 > r t, 0.05 dan
r 11 > r t, 0.01 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa angket persepsi siswa terhadap konselor reliabel dan berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran angket kenakalan remaja adalah kemudian dikonsulta- sikan dengan r tabel pada n = 40 harga r tabel = 0.312 untuk taraf signifikansi  = 0.05 dan r tabel = 0,403 untuk taraf signifikansi  = 0.01. Maka diperoleh r 11 > r t, 0.05 dan r 11 > r t, 0.01 sehingga dapat disimpulkan bahwa angket persepsi siswa terhadap konselor reliable

B. Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan instrumen penelitian berupa angket. Angket diberikan kepada 48 siswa SMP Negeri 7 Kebumen yang menjadi sampel penelitian. Data hasil penelitian penulis sajikan pada lampiran

1. Persepsi Siswa terhadap Konselor
Untuk mengungkap variabel tentang persepsi siswa terhadap konselor digunakan angket tertutup dengan 38 item. Adapun gambaran data hasil penelitian tersebut adalah:

Tabel 6 . Deskripsi Data Persepsi Siswa terhadap Konselor

Variabel Rata – Rata Median SD Maks Min Jangkauan
Persepsi Siswa terhadap Konselor 100.96 100.5 4.68 111 93 18

Data selengkapnya penulis sajikan pada lampiran dan berdasarkan data penelitian tentang persepsi siswa terhadap konselor dapat dibuat table frekuensi data, sebagai berikut :
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Variabel Persepsi Siswa terhadap Konselor
Nomor Nilai Frekuensi (f)
1. 90 – 94 2
2. 94 – 99 21
3. 100 – 104 17
4. 105 – 109 4
5. 110 – 114 4

2. Kenakalan Remaja
Untuk mengungkap variabel tentang kenakalan remaja digunakan angket tertutup dengan 36 item. Adapun gambaran data hasil penelitian tersebut adalah:
Tabel 8 . Deskripsi Data Kenakalan Remaja
Variabel Rata – Rata Median SD Maks Min Jangkauan
Kenakalan Remaja 99,65 100 4,83 110 92 18

Data selengkapnya penulis sajikan pada lampiran. . Dari data yang ada dapat dibuat tabel distribusi frekuensi data adalah sebagai berikut:
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Variabel kenakalan remaja
Nomor Nilai Frekuensi (f)
1. 90 – 94 10
2. 94 – 99 13
3. 100 – 104 17
4. 105 – 109 7
5. 110 – 114 1

2. Pengujian Hipotesis

Hipotesis merupakaan jawaban sementara atas masalah yang telah diajukan oleh karena itu jawaban sementara tersebut harus diuji kebenarannya, apakah data yang ada mendukung hipotesis yang diajukan atau justru sebaliknya menolak hipotesis yang diajukan.
Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah ada hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004.
A. Untuk menguji hipotesis tersebut penulis mengunakan uji statistika dengan rumus korelasi product moment sebagai berikut:
NXY – (X)(Y)
rxy =
{(NX2-(X)2}{NY2-(Y)2}

Keterangan:
rxy = koefisien korelasi antara x dan y
X = jumlah skor variabel X yaitu jumlah skor angket persepsi siswa
terhadap konselor
Y = jumlah skor variabel Y yaitu jumlah skor angket kenakalan
remaja
X2 = Jumlah kuadrat dari skor variabel angket persepsi siswa
terhadap konselor
Y2 = jumlah kuadrat dari skor variabel kenakalan remaja
N = jumlah responden.

Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran diperoleh rxy = 0.441 dan harga rxy tabel = 0.312 dengan taraf signifikansi  = 0.05 dan rxy tabel = 0.402 dengan taraf signifikansi  = 0.01. Dengan demikian rHitung > rTabel yang berarti Ho ditolak sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004 diterima.
C. Pembahasan
Hasil uji hipotesis di atas menunjukkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004.
Oleh karena hasil koefisien korelasi antara variabel persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja mempunyai taraf signifikansi yang cukup tinggi, maka dapat diperoleh pengertian bahwa siswa yang mempunyai persepsi yang baik terhadap konselor maka akan mengakibatkan tingkat kenakalannya rendah karena siswa beranggapan bahwa petugas bimbingan dan konseling atau konselor adalah kawan yang dapat sebagai penunjuk jalan, pembangkit kekuatan dan pembina tingkah laku – tingkah laku positip yang dikehendaki sehingga siswa dapat bekerjasama yang baik dengan konselor dalam mengatasi kenakalan remaja.
Hal ini berarti persepsi siswa terhadap konselor akan berpengaruh terhadap tingkat kenakalan remaja. Sehingga untuk menekan kenakalan remaja dapat ditempuh dengan memperbaiki persepsi siswa terhadap konselor agar peran konselor dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa tidak terhambat, karena terdapat kerjasama yang baik antara konselor dengan remaja sendiri dalam mengatasi kenakalan remaja.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran diperoleh rxy = 0.441 dan harga rxy tabel = 0.312 dengan taraf signifikansi  = 0.05 dan rxy tabel = 0.402 dengan taraf signifikansi  = 0.01. Dengan demikian rHitung > rTabel yang berarti Ho ditolak sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004 diterima.

Dengan bertitik tolak pada uraian di atas maka dapat diperoleh disimpulkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa terhadap konselor dengan kenakalan remaja di SMP Negeri 7 Kebumen Kabupaten Kebumen Kelas II Semester 2 Tahun Pelajaran 2003/2004 diterima. Hal ini berarti bahwa persepsi siswa yang positip terhadap konselor pada SMP Negeri 7 Kebumen, akan menekan tingkat kenakalan siswa pada sekolah tersebut. Begitu pula sebaliknya persepsi siswa yang tidak positip terhadap konselor pada SMP Negeri 7 Kebumen, dapat menyebabkan tingkat kenakalan siswa pada sekolah tersebut tinggi, hal ini dikarenakan konselor tidak dapat berperan dengan baik dalam membantu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi siswa.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang sudah penulis sampaikan di atas, maka ada beberapa pandangan yang dapat diangkat sebagai saran, sebagai berikut:

1. Bagi Orang Tua Siswa
Hendaknya orang tua siswa menyadari akan tanggung jawab yang dimiliki terhadap putra – putrinya, terutama dalam memberikan bimbingan, arahan serta didikan di rumah, dan dapat membantu memperbaiki persepsi putra putrinya terhadap konselor dalam rangka mencegah dan mengatasi kenakalan remaja.

2. Bagi Kepala Sekolah
Kepala sekolah hendaknya mampu memberikan dorongan serta kesempatan kepada konselor sekolah guna membina dan menciptakan persepsi yang benar pada diri siswa terhadap konselor sehingga siswa dapat memanfaatkan layanan konselor secara optimal terutama dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

3. Bagi Konselor Sekolah
Konselor hendaknya benar-benar menampilkan sifat profesionalnya dan memanfaatkan kesempatan untuk membina dan membimbing siswa terutama dalam menanamkan persepsi yang benar pada diri siswa sehingga siswa berpandangan bahwa konselor merupakan kawan yang menyenangkan, yang dapat sebagai penunjuk jalan, pembangkit kekuatan dan pembina tingkah laku – tingkah laku positip yang dikehendaki.

4. Bagi Siswa
Siswa hendaknya berusaha memahami pentingnya layanan bimbingan konseling, sehingga siswa mampu mengembangkan persepsi yang positif terhadap konselor dan bersedia mendapatkan layanan BK dari konselor untuk mencegah kenakalan remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Bimo Walgito. 2001. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta Andi Ofset.

Dimyati Mahmud. 1989. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta : irektorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Hasan Basri. 1996. Remaja Berkualitas, Problematika Remaja dan Solusinya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

IKIP PGRI. 2000. Pedoman Skripsi IKIP PGRI Semarang. Semarang; IKIP PGRI Semarang.

Kartini Kartono. 1981. Psikologi Abnormal. Bandung : Alumni.

Kartini Kartono. 1990. Psikologi Umum. Bandung : Mandar Maju.

Poerwodarminto. 1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Prayitno, Erman Anti. 1999. Dasar – Dasar Bimbimgan dan Konseling. Jakarta : Depdiknas, Rineka Cipta.

Sarlito Wirawan Sarwono. 1997. Psikologi Remaja. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Singgih D. Gunarso. 2000. Psikologi Remaja. Jakarta : Rineka Cipta.

Siti Partini Suardiman. 1995. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : IKIP.

Sudarsono. 1991. Kenakalan Remaja. Jakarta : Rineka Cipta.

Sudarsono, F. X. 1988. Analisa Data 1. Jakarta : Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Sutrisno Hadi. 1986. Metode Penelitian. Yogyakarta : Andi Offset.

TAP MPR RI No.III/MPR/1993. 1993. Garis-garis Besar Haluan Negara. Semarang : Aneka Ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *